Kebudayaan Jawa Barat
|
|
|||
|
Peta
lokasi Jawa Barat
|
|||
|
Ibu
kota
|
|||
|
|
|||
|
Pemerintahan
|
|||
|
Luas
|
|||
|
• Total
|
35.222.18 km2
(13,599.36 mil²)
|
||
|
• Total
|
43.053.732
|
||
|
• Kepadatan
|
1,200/km2
(3,200/sq mi)
|
||
|
Demografi
|
|||
|
Bahasa
Sunda,
Bahasa
Cirebonan, Bahasa Cirebon dialek Indramayu, Bahasa Melayu dialek Betawi (Berdasarkan Peraturan Daerah
Provinsi Jawa Barat (Perda Prov. Jabar) No. 5 Tahun 2003)
|
|||
|
17
|
|||
|
9
|
|||
|
558
|
|||
|
5.778
|
|||
Jawa Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia. Ibu kotanya
berada di Kota Bandung. Perkembangan
Sejarah menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan Provinsi yang pertama
dibentuk di wilayah Indonesia (staatblad Nomor : 378). Provinsi Jawa Barat
dibentuk berdasarkan UU No.11 Tahun 1950, tentang Pembentukan Provinsi Jawa
Barat. Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di
Indonesia. Bagian barat laut provinsi Jawa Barat berbatasan langsung dengan Daerah Khusus Ibukota Jakarta, ibu kota
negara Indonesia. Pada tahun 2000, Provinsi Jawa
Barat dimekarkan dengan berdirinya Provinsi Banten, yang berada
di bagian barat. Saat ini terdapat wacana untuk mengubah nama Provinsi Jawa
Barat menjadi Provinsi
Pasundan, dengan memperhatikan aspek historis wilayah ini.[4][5] Namun hal ini
mendapatkan penentangan dari wilayah Jawa Barat lainnya seperti Cirebon dimana
tokoh masyarakat asal Cirebon menyatakan bahwa jika nama Jawa Barat diganti
dengan nama Pasundan seperti yang berusaha digulirkan oleh Bapak Soeria
Kartalegawa tahun 1947 di Bandung maka Cirebon akan segera memisahkan diri dari
Jawa Barat[6], karena nama
"Pasundan" berarti (Tanah Sunda) dinilai tidak merepresentasikan keberagaman
Jawa Barat yang sejak dahulu telah dihuni juga oleh Suku Betawi dan Suku
Cirebon serta telah dikuatkan dengan keberadaan Peraturan Daerah (Perda) Jawa
Barat No. 5 Tahun 2003 yang mengakui adanya tiga suku asli di Jawa Barat yaitu
Suku Betawi yang berbahasa Melayu dialek
Betawi, Suku Sunda yang berbahasa Sunda dan Suku
Cirebon yang berbahasa Bahasa Cirebon
(dengan keberagaman dialeknya).
Sejarah
Temuan arkeologi di Anyer menunjukkan adanya budaya logam perunggu dan besi
sejak sebelum milenium pertama. Gerabah tanah liat prasejarah zaman Buni
(Bekasi kuno) dapat ditemukan merentang dari Anyer sampai Cirebon.[rujukan?]Jawa Barat pada abad ke-5
merupakan bagian dari Kerajaan Tarumanagara.[rujukan?] Prasasti
peninggalan Kerajaan Tarumanagara banyak
tersebar di Jawa Barat. Ada tujuh prasasti yang ditulis dalam aksara Wengi
(yang digunkan dalam masa Palawa India) dan bahasa Sansakerta yang sebagian
besar menceritakan para raja Tarumanagara.
Setelah runtuhnya kerajaan Tarumanagara, kekuasaan di
bagian barat Pulau Jawa dari Ujung
Kulon sampai Kali Serayu dilanjutkan
oleh Kerajaan Sunda[rujukan?]. Salah satu
prasasti dari zaman Kerajaan Sunda adalah prasasti Kebon Kopi II yang berasal
dari tahun 932. Kerajaan sunda beribukota di Pakuan Pajajaran (sekarang kota Bogor).[
Pada abad ke-16, Kesultanan Demak tumbuh menjadi saingan ekonomi dan
politik Kerajaan Sunda. Pelabuhan Cerbon (kelak menjadi Kota Cirebon) lepas dari Kerajaan Sunda karena
pengaruh Kesultanan Demak. Pelabuhan ini kemudian tumbuh menjadi Kesultanan Cirebon yang
memisahkan diri dari Kerajaan Sunda. Pelabuhan Banten juga lepas ke tangan
Kesultanan Cirebon dan kemudian tumbuh menjadi Kesultanan
Banten.
Untuk menghadapi ancaman ini, Sri Baduga Maharaja, raja Sunda
saat itu, meminta putranya, Surawisesa untuk membuat
perjanjian pertahanan keamanan dengan orang Portugis di Malaka untuk mencegah
jatuhnya pelabuhan utama, yaitu Sunda Kalapa, kepada
Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Demak. Pada saat Surawisesa menjadi raja
Sunda, dengan gelar Prabu Surawisesa Jayaperkosa, dibuatlah perjanjian
pertahanan keamanan Sunda-Portugis, yang ditandai dengan Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal,
ditandatangani dalam tahun 1512. Sebagai imbalannya, Portugis diberi akses
untuk membangun benteng dan gudang di Sunda Kalapa serta akses untuk
perdagangan di sana. Untuk merealisasikan perjanjian pertahanan keamanan
tersebut, pada tahun 1522 didirikan suatu monumen batu yang disebut padrão
di tepi Ci Liwung.
Meskipun perjanjian pertahanan keamanan dengan Portugis telah dibuat,
pelaksanaannya tidak dapat terwujud karena pada tahun 1527 pasukan aliansi
Cirebon - Demak, dibawah pimpinan Fatahilah atau Paletehan, menyerang dan
menaklukkan pelabuhan Sunda Kalapa. Perang antara Kerajaan Sunda dan aliansi
Cirebon - Demak berlangsung lima tahun sampai akhirnya pada tahun 1531 dibuat
suatu perjanjian damai antara Prabu Surawisesa dengan Sunan Gunung
Jati dari Kesultanan Cirebon.
Dari tahun 1567 sampai 1579, dibawah pimpinan Raja Mulya, alias Prabu Surya
Kencana, Kerajaan Sunda mengalami kemunduran besar dibawah tekanan Kesultanan
Banten. Setelah tahun 1576, kerajaan Sunda tidak dapat mempertahankan Pakuan
Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda, dan akhirnya jatuh ke tangan Kesultanan
Banten. Zaman pemerintahan Kesultanan Banten, wilayah Priangan (Jawa Barat
bagian tenggara) jatuh ke tangan Kesultanan Mataram.
Jawa Barat sebagai pengertian administratif mulai digunakan pada tahun 1925 ketika
Pemerintah Hindia Belanda membentuk
Provinsi Jawa Barat. Pembentukan provinsi itu sebagai pelaksanaan Bestuurshervormingwet
tahun 1922, yang membagi Hindia Belanda atas kesatuan-kesatuan
daerah provinsi. Sebelum tahun 1925, digunakan istilah Soendalanden
(Tatar Soenda) atau Pasoendan, sebagai istilah geografi untuk menyebut bagian Pulau Jawa di sebelah
barat Sungai Cilosari dan Citanduy yang sebagian besar dihuni oleh penduduk
yang menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa
ibu.
Pada tanggal 27 Desember 1949 Jawa Barat menjadi Negara Pasundan yang
merupakan salah satu negara bagian dari Republik Indonesia Serikat sebagai hasil
kesepakatan tiga pihak dalam Konferensi Meja Bundar: Republik Indonesia,
Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), dan Belanda. Kesepakatan ini
disaksikan juga oleh United Nations Commission for Indonesia (UNCI) sebagai
perwakilan PBB.
Perekonomian
Jawa Barat selama lebih dari tiga dekade telah mengalami perkembangan
ekonomi yang pesat. Saat ini peningkatan ekonomi modern ditandai dengan
peningkatan pada sektor manufaktur dan jasa. Disamping perkembangan sosial dan
infrastruktur, sektor manufaktur terhitung terbesar dalam memberikan
kontribusinya melalui investasi, hampir tigaperempat dari industri-industri
manufaktur non minyak berpusat di sekitar Jawa Barat.PDRB Jawa Barat pada tahun
2003 mencapai Rp.231.764 milyar (US$ 27.26 Billion) menyumbang 14-15 persen
dari total PDB nasional, angka tertinggi bagi sebuah Provinsi. Bagaimanapun juga
karena jumlah penduduk yang besar, PDB per kapita Jawa Barat adalah Rp.
5.476.034 (US$644.24) termasuk minyak dan gas, ini menggambarkan 82,4 persen
dan 86,1 persen dari rata-rata nasional. Pertumbuhan ekonomi tahun 2003 adalah
4,21 persen termasuk minyak dan gas 4,91 persen termasuk minyak dan gas, lebih
baik dari Indonesia secara keseluruhan. (US$1 = Rp. 8.500,-).
Geografi
Provinsi Jawa Barat berada di bagian barat Pulau Jawa. Wilayahnya
berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Jawa Tengah di timur, Samudera Hindia di selatan,
serta Banten dan DKI Jakarta di barat.
Kawasan pantai utara merupakan dataran rendah. Di bagian tengah merupakan
pegunungan, yakni bagian dari rangkaian pegunungan yang membujur dari barat
hingga timur Pulau Jawa. Titik
tertingginya adalah Gunung Ciremay, yang berada
di sebelah barat daya Kota Cirebon. Sungai-sungai
yang cukup penting adalah Sungai Citarum dan Sungai Cimanuk, yang bermuara di Laut Jawa.
Penduduk
Sebagian besar penduduk Jawa Barat adalah Suku Sunda, yang bertutur
menggunakan Bahasa Sunda. Di Kabupaten Cirebon, Kota Cirebondan Kabupaten Kuningan dituturkan
bahasa Jawa dialek Cirebon, yang mirip
dengan Bahasa
Banyumasan dialek Brebes. Di daerah
perbatasan dengan DKI Jakarta seperti sebagian Kota Bekasi, Kecamatan Tarumajaya dan Babelan (Kabupaten Bekasi) dan Kota Depok bagian utara
dituturkan Bahasa Melayu
dialek Betawi. Jawa Barat merupakan wilayah berkarakteristik kontras
dengan dua identitas; masyarakat urban yang sebagian besar tinggal di wilayah
JABODETABEK (sekitar Jakarta) dan masyarakat tradisional yang hidup di pedesaan
yang tersisa.Pada tahun 2002, populasi Jawa Barat mencapai 37.548.565 jiwa,
dengan rata-rata kepadatan penduduk 1.033 jika/km persegi.Dibandingkan dengan
angka pertumbuhan nasional (2,14% per tahun), Provinsi Jawa Barat menduduki
peringkat terendah, dengan 2,02% per tahun.
Penggunaan bahasa daerah kini mulai dipromosikan kembali. Sejumlah stasiun
televisi dan radio lokal kembali menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa
pengantar pada beberapa acaranya, terutama berita dan talk show, misalnya Bandung TV memiliki
program berita menggunakan Bahasa Sunda serta Cirebon
Radio yang menggunakan ragam Bahasa Cirebon
Bagongan maupun Bebasan. Begitu pula dengan media massa cetak
yang menggunakan bahasa sunda, seperti majalah Manglé dan majalah
Bina Da'wah yang diterbitkan oleh Dewan Da'wah Jawa Barat.
Iklim
Iklim di Jawa Barat adalah tropis, dengan suhu 9 °C di Puncak Gunung
Pangrango dan 34 °C di Pantai Utara, curah hujan rata-rata 2.000 mm per
tahun, namun di beberapa daerah pegunungan antara 3.000 sampai 5.000 mm per
tahun.
Topografi
Ciri utama daratan Jawa Barat adalah bagian dari busur kepulauan gunung api
(aktif dan tidak aktif) yang membentang dari ujung utara Pulau Sumatera hingga
ujung utara Pulau Sulawesi. Daratan dapat dibedakan atas wilayah pegunungan
curam di selatan dengan ketinggian lebih dari 1.500 m di atas permukaan laut,
wilayah lereng bukit yang landai di tengah ketinggian 100 1.500 m dpl, wilayah
dataran luas di utara ketinggian 0 . 10 m dpl, dan wilayah aliran sungai.
Demografi
Piramida
penduduk Provinsi Jawa Barat berdasarkan hasil sensus 2010. Legenda: ██ Laki-laki ██ Perempuan
Peta kota dan
kabupaten di Provinsi Jawa Barat berdasarkan tingkat kepadatan penduduk hasil
sensus 2010. Legenda: ██ < 2.000 ██ 2.000 - 3.999 ██ 4.000 - 8.999 ██ 9.000 - 10.999 ██ ≥ 11.000
Jumlah penduduk Provinsi Jawa Barat adalah sebanyak 43.053.732 jiwa yang
mencakup mereka yang bertempat tinggal di daerah perkotaan sebanyak 28.282.915
jiwa (65,69 persen) dan di daerah perdesaan sebanyak 14.770.817 jiwa (34,31
persen). Persentase distribusi penduduk menurut kabupaten/kota bervariasi dari
yang terendah sebesar 0,41 persen di Kota Banjar hingga yang
tertinggi sebesar 11,08 persen di Kabupaten Bogor.
Penduduk laki-laki Provinsi Jawa Barat sebanyak 21.907.040 jiwa dan
perempuan sebanyak 21.146.692 jiwa. Seks Rasio adalah 104, berarti terdapat 104
laki-laki untuk setiap 100 perempuan. Seks rasio menurut
kabupaten/kota yang terendah adalah Kabupaten
Ciamis sebesar 98 dan tertinggi adalah Kabupaten
Cianjur sebesar 107. Seks Rasio pada kelompok umur 0-4 sebesar
106, kelompok umur 5-9 sebesar 106, kelompok umur lima tahunan dari 10 sampai
64 berkisar antara 97 sampai dengan 113, dan dan kelompok umur 65-69 sebesar
96.
Median umur penduduk Provinsi Jawa Barat tahun 2010 adalah 26,86 tahun.
Angka ini menunjukkan bahwa penduduk Provinsi Jawa Barat termasuk kategori
menengah. Penduduk suatu wilayah dikategorikan penduduk muda bila median umur
< 20, penduduk menengah jika median umur 20-30, dan penduduk tua jika median
umur > 30 tahun.
Rasio
ketergantungan penduduk Provinsi Jawa Barat adalah 51,20. Angka ini
menunjukkan bahwa setiap 100 orang usia produktif (15-64 tahun) terdapat
sekitar 51 orang usia tidak produkif (0-14 dan 65+), yang menunjukkan banyaknya
beban tanggungan penduduk suatu wilayah. Rasio ketergantungan di daerah
perkotaan adalah 48,84 sementara di daerah perdesaan 55,92.[7]
Manufaktur
Provinsi Jawa Barat memiliki tingkat konsentrasi yang tinggi untuk
manufaktur termasuk diantaranya elektronik, industri kulit, pengolahan makanan,
tekstil, furnitur dan industri pesawat. Juga panas bumi, minyak dan gas, serta
industri petrokimia menjadi andalan Jawa Barat. Penyumbang terbesar terhadap
GRDP Jawa Barat adalah sektor manufaktur (36,72%), hotel, perdagangan dan
pertanian (14,45%), totalnya sebesar 51,17%. Terlepas dari adanya krisis, Jawa
Barat masih menjadi pusat dari industri tekstil modern dan garmen nasional,
berbeda dengan daerah lain yang menjadi pusat dari industri tekstil
tradisional. Jawa Barat menymbangkan hampir seperempat dari nilai total hasil
produksi Indonesia di sektor non Migas. Ekspor utama tekstil, sekitar 55,45% dari
total ekspor jawa Barat, yang lainnya adalah besi baja, alas kaki, furnitur,
rotan, elektronika, komponen pesawat dan lainnya.
Pertanian: Lahan dan Perairan
Dikenal sebagai salah satu 'lumbung padi' nasional, hampir 23 persen dari
total luas 29,3 ribu kilometer persegi dialokasikan untuk produksi beras. Tidak
dipungkiri lagi, Jawa Barat merupakan 'Rumah Produksi' bagi ekonomi Indonesia,
hasil pertanian Provinsi Jawa Barat menyumbangkan 15 persen dari nilai total
pertanian Indonesia.Hasil tanaman pangan Jawa Barat meliputi beras, kentang
manis, jagung, buah-buahan dan sayuran, disamping itu juga terdapat komoditi
seperti teh, kelapa, minyak sawit, karet alam, gula, coklat dan kopi.
Perternakannya menghasilkan 120.000 ekor sapi ternak, 34% dari total nasional.
Kelautan dan Perikanan
Jawa Barat berhadapan dengan dua sisi lautan Jawa pada bagian utara dan
samudera Hindia di bagian selatan dengan panjang pantai sekitar 1000 km.
Berdasarkan letak inilah Provinsi Jawa Barat memiliki potensi perikanan yang
sangat besar. Suatu perencanaan terpadu tengah dilaksanakan untuk pengembangan
Pelabuhan Cirebon, baik sebagai pelabuhan Pembantu Tanjung Priok Jakarta,
maupun sebagai pelabuhan perikanan Jawa Barat yang dilengkapi dengan industri
perikanan.Untuk potensi perairan darat, tidak hanya dari sejumlah sungai yang
mengalir di Jawa Barat, Tetapi potensi ini juga diperoleh dari penampungan air
/ DAM saguling di Cirata dan DAM Jatiluhur yang selain menghasilkan tenaga
listrik juga berguna untuk mengairi area pertanian dan industri perikanan air
tawar.
Sumber Daya Manusia: Jumlah Penduduk
dan Tenaga Kerja
Dengan jumlah penduduk sekitar 37 juta manusia pada tahun 2003, 16 persen
dari total jumlah penduduk Indonesia. Pertumbuhan urbanisasi di Provinsi tumbuh
sangat cepat, khususnya disekitar JABODETABEK (sekitar Jakarta). Jawa Barat
memiliki tenaga pekerja berpendididkan berjumlah 15,7 juta orang pada tahun
2001 atau 18 persen dari total nasional tenaga pekerja berpendidikan. Sebagian
besar bekerja pada bidang pertanian, kehutanan dan perikanan (31%), pada
industri manufaktur (17%), perdagangan, hotel dan restoran (22,5%) dan sektor
pelayanan (29%).
Minyak-Mineral dan Geothermal
Minyak dapat ditemukan di sepanjang Laut Jawa, utara Jawa Barat, sementara
cadangan geothermal (panas bumi) terdapat di beberapa derah di Jawa Barat.
Tambang lain sepert Batu gamping, andesit, marmer, tanah liat merupakan
pertambangan mineral yang dapat ditemukan, termasuk mineral lain yang cadangan
depositnya sangat potensial, Emas yang dikelola PT. Aneka Tambang, potensinya
sebesar 5,5 million ton, dan menghasilkan 12,1 gram emas per ton.
Pendidikan dan Kebudayaan
Perlindungan dan proses pengembangan Budaya dan Bahasa yang ada di Jawa
Barat secara kongrit dimulai dengan adanya Kongres Jawa Barat, kongres Jawa
Barat merupakan sebuah wadah berkumpulnya para tokoh masyarakat Jawa Barat
untuk membicarakan berbagai persoalan sosial-kemasyarakatan yang ada di Jawa
Barat.
Keberagaman budaya dan bahasa yang ada di Jawa Barat sempat diuji ketika
Kongres Jawa Barat yang ketiga diadakan. Tepatnya di Kota Bandung tanggal 28
Februari 1948, pada saat tersebut salah satu perwakilan masyarakat Jawa Barat
dari Suku Sunda yaitu Bapak Soeria Kartalegawa yang juga ketua Parta Rakyat
Pasundan (PRP) mengusulkan agar pembicaraan dalam rapat badan perwakilan
tersebut (Kongres Jawa Barat) dibolehkan menggunakan Bahasa Sunda, namun kemudian
usulan tersebut segera disanggah oleh perwakilan masyarakt Jawa Barat lainnya
dari Suku Cirebon yaitu bapak Soekardi, bapak Soekardi menyatakan
|
“
|
“Djika
dibolehkan berbitjara dalam bahasa Soenda, orang-orang yang ingin memakai
bahasa daerah lainnya poen haroes diizinkan, oempamanja bahasa daerah
Tjirebon”.
|
”
|
Kemudian pada periode sebelum tahun 1970-an Pemerintah memasukan Pelajaran Bahasa Jawa dialek Solo / Yogya (Baku) untuk wilayah
Cirebon dan Indramayu yang masih termasuk wilayah Provinsi Jawa Barat dimana
mayoritas penduduknya menggunakan Bahasa Sunda, namun
ternyata guru pengajar dan muridnya tidak memahami kosakata yang digunakan
tersebut hingga akhirnya memutuskan untuk tidak mengajarkan Bahasa Jawa dialek Solo / Yogya (Baku) di wilayah
Cirebon-Indramayu. Kekosongan pelajaran muatan lokal bahasa daerah ini kemudian
berusaha diisi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan memasukan pelajaran
bahasa daerah Bahasa Sunda, oleh karenanya pada periode tahun 1970-an bahasa
daerah yang diajarkan di wilayah Cirebon - Indramayu adalah Bahasa Sunda karena dianggap akan lebih mudah
dimengerti karena para pemakai bahasa Sunda “lebih dekat”. Akan tetapi,
ternyata kebijaksanaan itu pun tidak tepat sehingga muncul gerakan untuk
menggantinya dengan buku dalam bahasa yang digunakan di wilayahnya, yaitu Bahasa Jawa dialek Cirebon[8], kemudian pada
periode tahun selanjutnya pengajaran Bahasa Cirebon ini mulai untuk diajarkan
di wilayah "Pakaleran Majalengka" yaitu wilayah utara
kabupaten Majalengka yang mayoritas penduduknya merupakan keturunan Prajurit
Majapahit, pada wilayah Pakaleran ini kosakata Bahasa Jawa
diaek Banyumasan, Bahasa Jawa
dialek Bumiayu serta Bahasa Jawa
dialek Tegal lebih terasa, contohnya pada penyebutan kata
"saya" yang menggunakan sebutan "Nyong" dan bukannya
"Ingsun" ataupun "Reang" seperti yang dituturkan di wilayah
Cirebon - Indramayu. Namun pengajaran bahasa daerah pada periode tersebut belum
memiliki payung hukum, karena Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebelumnya
mengindikasikan bahwa Jawa Barat merupakan wilayah tanah Sunda, dengan
mayoritas suku sunda yang bertutur bahasa sunda, baru setelah tahun 2003 dengan
diterbitkannya Peraturan Daerah (Perda) Jawa Barat No. 5 Tahun 2003 tentang
Perlindugan dan Pengembangan Budaya dan Bahasa di Jawa Barat yang mengakui
adanya tiga suku asli jawa barat yaitu Sunda, Melayu-Betawi dan Cirebon,
pengajaran bahasa daerah non-sunda memiliki perlindungan payung hukumnya,
adapun pergerakan untuk menjadikan bahasa cirebon sebagai sebuah bahasa yang
mandiri yang terlepas dari Bahasa Jawa maupun Sunda dilakukan dengan sebuah
Metode yang disebut dengan "Metode Guiter" namun pada perhitunganya
metode tersebut baru mencatat sekitar 75% perbedaan antara Bahasa Cirebon dengan Bahasa Jawa
dialek Solo / Yogya, sementara untuk diakui sebagai sebuah bahasa mandiri
diperlukan sedikitnya 80% perbedaan dengan bahasa terdekatnya[9]. namun secara
nyata, penerbitan buku penunjang pelajaran bahasa daerah Cirebon dan Indramayu
pada periode tahun 2000-an sudah dilakukan dengan tidak menyebutkan Cirebon
sebagai sebuah dialek Bahasa Jawa dan hanya disebutkan "Bahasa
Cirebon" dan bukannya "Bahasa Jawa dialek Cirebon" seperti yang
dilakukan pada penerbitan "Kamus Bahasa Cirebon" oleh Almarhum Bapak
TD Sudjana dan kawan-kawan tahun 2001 dan "Wykarana - Tata Bahasa Cirebon"
oleh Bapak Salana tahun 2002.
Pengembangan dan Perlindungan Bahasa yang diamanatkan oleh Perda Jawa Barat
No. 5 Tahun 2003 dalam kaitannya dengan pengembangan Bahasa Cirebon hanya terjadi
disekitar wilayah eks-karesidenan Cirebon yaitu (Kabupaten
Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Indramayu, sebagian
wilayah Kabupaten Majalengka dan sebagian
wilayah Kabupaten Kuningan) sementara
wilayah kabupaten lainnya yang juga didiami oleh Suku Cirebon seperti wilayah Kabupaten Subang sebelah utara dan sebagian wilayah Kabupaten Karawang di Pesisir
Timur hingga tahun 2011 (delapan tahun setelah Perda Jawa Barat No. 5 Tahun
2003) diterbitkan belum juga mendapatkan pengajaran Bahasa Cirebon, adanya
ketidakmerataan pengajaran bahasa daerah di Jawa barat ini dikarenakan
pemerintah memberikan hak sepenuhnya kepada Pemerintah Daerah di setiap
Kabupaten / Kota untuk menentukan sendiri pengajaran bahasa daerah yang ada
diwilayahnya.
Berbeda halnya dengan pendidikan bahasa cirebon, pendidikan bahasa betawi
di wilayah Provinsi Jawa Barat mengalami hal yang lebih parah dari masalah yang
dialami oleh bahasa cirebon, pendidikan Bahasa Betawi hingga tahun 2011
(delapan tahun setelah Perda Jawa Barat No. 5 Tahun 2003) diterbitkan sama
sekali belum dilakukan di wilayah yang didiami oleh suku betawi yaitu Kota Depok, Kota Bekasi, Kabupaten
Bekasi, sebagian Kabupaten Bogor wilayah Utara
dan sebagian wilayah Kabupaten Karawang sebelah barat,
padahal penelitian tentang Bahasa Betawi telah cukup banyak dilakukan,
diantaranya :
- K.
Ikranegara (1980). Melayu Betawi Grammar. Linguistic Studies in Indonesian
and Languages in Indonesia 9. Jakarta: NUSA.
- S. Wallace
(1976). Linguistic and Social Dimensions of Phonological Variation in
Jakarta Malay. PhD. Dissertation, Cornell University.
- Klarijn
Loven (2009). Watching Si Doel: Television, Language and Cultural Identity
in Contemporary Indonesia, 477 halaman, ISBN-10: 90-6718-279-6. Penerbit:
The KITLV/Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean
Studies at Leiden.
- Lilie M.
Roosman (April 2006). Lilie Roosman: Phonetic experiments on the word and
sentence prosody of Betawi Malay and Toba Batak, Penerbit: Universiteit Leiden.
Hingga tahun 2011 Pemerintah Daerah yang wilayahnya didiami oleh Suku
Betawi yaitu Kota Depok, Kota Bekasi, Kabupaten
Bekasi, Kabupaten Bogor dan Kabupaten Karawang masih belum
mengadakan pendidikan bahasa daerah Bahasa Melayu dialek Betawi dan hanya
mengajarkan pendidikan bahasa daerah Bahasa Sunda.
Perguruan Tinggi Negeri
- Institut
Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati, Cirebon
- Institut
Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Sumedang
- Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor.
- Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung.
- Politeknik
Kesehatan Kemenkes Bandung (POLTEKKES),Bandung
- Politeknik Manufaktur Bandung (POLMAN),
d/h Politeknik Mekanik Swis-ITB Bandung, Bandung.
- Politeknik Negeri Bandung (POLBAN),
d/h Politeknik ITB Bandung,Bandung.
- Politeknik
Negeri Sukabumi (Polsu), Sukabumi
- Sekolah
Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS Bandung), Bandung.
- Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB),
d/h National Hotel Institute (NHI), Bandung.
- Sekolah
Tinggi Seni Indonesia Bandung (STSI Bandung), d/h ASTI Bandung,
Bandung.
- Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT),
d/h Institut Teknologi Tekstil (ITT), Bandung.
- Sekolah
Tinggi Transportasi Darat (STTD), Bekasi
- Universitas Indonesia (UI), Kota Depok.
- Universitas
Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN
Bandung), Bandung
- Universitas Padjadjaran (Unpad),
dengan lokasi kampus di,Bandung dan Sumedang.
- Universitas Pendidikan Indonesia (UPI),
d/h IKIP Bandung, Bandung.
- Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon
Perguruan Tinggi Swasta
- Institut Teknologi Nasional (Itenas),
di Bandung
- Institut Agama Islam Cipasung (IAIC),
di Tasikmalaya
- Institut Teknologi Telkom (IT
Telkom), di Bandung
- Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB),
di Bandung
- Universitas Katolik Parahyangan
(Unpar),di Bandung
- Universitas Langlangbuana (UNLA),
di Bandung
- Universitas Kristen Maranatha ,di Bandung
- Universitas Islam Bandung
(Unisba),di Bandung
- Universitas Pasundan (Unpas),
di Bandung
- Universitas Widyatama (UTAMA),
di Bandung
- Universitas Garut (UNIGA), di
Garut
- Universitas Islam Nusantara (UNINUS),
di Bandung
- Universitas Siliwangi (unsil),
di Tasikmalaya
- Universitas Galuh (unigal),
di Ciamis
- Universitas Ibn Khaldun Bogor (UIKA),
di Bogor
- Universitas Pakuan (Unpak),
di Bogor
- Universitas Komputer Indonesia (Unikom),
di Bandung
- Universitas Winaya Mukti (Unwim),
di Jatinangor Sumedang
- Institut
Koperasi Indonesia (Ikopin), di Jatinangor Sumedang
- Universitas Sebelas April (Unsap),
di Sumedang
- Universitas
Informatika dan Bisnis Indonesia (UNIBI), di Bandung
- Universitas
Majalengka (UNMA), di Majalengka
- Universitas Kuningan (UNIKU) ,
di Kuningan
- Sekolah
Tinggi Kesehatan Kuningan (STIKKU) , di Kuningan
- Sekolah
Tinggi Agama Islam (STAI Al-IHYA) , di Kuningan
- Universitas Bale Bandung (UNIBBA)
, di Bandung
- Sekolah
Tinggi Ekonomi Islam Al-Ishlah (STEI Al-ISHLAH) , di Cirebon
- Sekolah
Tinggi Teknologi Nusa Putra (STT NUSA PUTRA), di Sukabumi
- Sekolah
Tinggi Agama Islam (STAI Al-AMIN) , di Sukabumi
- Sekolah
Tinggi Manajemen Informatika Komputer Tasikmalaya (STMIK
Tasikmalaya) , di Kota Tasikmalaya
- Universitas
Wiralodra (UNWIR) , di Indramayu
- Universitas
Subang (UNSUB), di Subang
- Universitas Gunadarma (UG), di
Depok
- Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI),
di Sukabumi
- Universitas
Sukabumi (UNSU), di Sukabumi
- Universitas Singaperbangsa (UNSIKA)
di Karawang
- Universitas
Purwakarta (UNPUR) di Purwakarta
- Universitas
Sutan Mahesa (UNSUMA), di Sukabumi Utara
- STIE
DR.KHEZ Muttaqien (STIE Muttaqien) di Purwakarta
- Universitas
Islam "45" (UNISMA), di Bekasi
- Politeknik Pos Indonesia
(POLPOSINDO), di Bandung
- Universitas
Muhammadiyah Bandung (UNIMBA), di Bandung
- Universitas
Surya Kencana (UNSUR), di Cianjur
- Institut
Studi Islam Fahmina (ISIF), Cirebon
- Universitas
Swadaya Gunung Jati (UNSWAGATI), Cirebon
- Universitas
Muhammadiyah Cirebon (UMC) , irebon
Pemerintahan
- Kota Bekasi, dimekarkan dari Kabupaten Bekasi pada
tahun 1996
- Kota Depok, dimekarkan dari Kabupaten Bogor pada
tahun 1999
- Kota Cimahi, dimekarkan dari Kabupaten Bandung pada
tahun 2001
- Kota Tasikmalaya,
dimekarkan dari Kabupaten Tasikmalaya pada
tahun 2001
- Kota Banjar, dimekarkan dari Kabupaten Ciamis pada
tahun 2002
- Kabupaten Bandung Barat,
dimekarkan dari Kabupaten Bandung tahun 2007
- Kabupaten Pangandaran,
dimekarkan dari Kabupaten Ciamis tahun 2012
Kabupaten dan Kota
|
Kabupaten dan Kota Jawa Barat
|
||
|
No.
|
Kabupaten/Kota
|
Ibu
kota
|
|
1
|
Soreang
|
|
|
2
|
Ngamprah
|
|
|
3
|
Cikarang
|
|
|
4
|
Cibinong
|
|
|
5
|
Ciamis
|
|
|
6
|
Cianjur
|
|
|
7
|
Sumber
|
|
|
8
|
Tarogong
Kidul
|
|
|
9
|
Indramayu
|
|
|
10
|
Karawang
|
|
|
11
|
Kuningan
|
|
|
12
|
Majalengka
|
|
|
13
|
Parigi
|
|
|
14
|
Purwakarta
|
|
|
15
|
Subang
|
|
|
16
|
Pelabuhanratu
|
|
|
17
|
Sumedang
|
|
|
18
|
Singaparna
|
|
|
19
|
-
|
|
|
20
|
-
|
|
|
21
|
-
|
|
|
22
|
-
|
|
|
23
|
-
|
|
|
24
|
-
|
|
|
25
|
-
|
|
|
26
|
-
|
|
|
27
|
-
|
Daftar gubernur
|
No
|
Foto
|
Nama
|
Mulai Jabatan
|
Akhir Jabatan
|
Keterangan
|
|
1.
|
1945
|
|
|||
|
2.
|
1945
|
1946
|
|
||
|
3.
|
1946
|
|
|||
|
4.
|
1948
|
|
|||
|
5.
|
1950
|
||||
|
6.
|
1951
|
|
|||
|
7.
|
1956
|
|
|||
|
8.
|
1959
|
|
|||
|
9.
|
1970
|
|
|||
|
10.
|
1974
|
|
|||
|
11.
|
1985
|
|
|||
|
12.
|
1993
|
|
|||
|
13.
|
13 Juni 2003
|
|
|||
|
14.
|
|
||||
|
15.
|
periode pertama
|
||||
|
periode kedua
|
Perwakilan
DPRD Jawa Barat hasil Pemilihan Umum Legislatif 2009 tersusun dari
10 partai, dengan perincian sebagai berikut:
|
Partai
|
Kursi
|
%
|
|
38
|
34,9
|
|
|
16
|
14,7
|
|
|
15
|
13,8
|
|
|
13
|
11,9
|
|
|
8
|
7,3
|
|
|
8
|
7,3
|
|
|
5
|
4,6
|
|
|
3
|
2,8
|
|
|
2
|
1,8
|
|
|
1
|
0,9
|
|
|
Total
|
109
|
100,0
|
Pariwisata, Seni, dan Budaya
Pariwisata
Objek-objek wisata yang menarik dan banyak dikunjungi di daerah Jawa Barat:
- Kawah Putih, Ciwidey, Kabupaten
Bandung
- Situ Patenggang, Rancabali, Kabupaten
Bandung
- Observatorium
Bosscha, Lembang, Kabupaten
Bandung Barat
- Taman
Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Lembang, Kabupaten
Bandung Barat
- Kebun Raya Bogor, Kota Bogor
- Talaga Warna, Puncak, Kabupaten Bogor
- Taman Safari Indonesia,Cisarua,Kabupaten Bogor
- Taman
Wisata Mekarsari, Kabupaten Bogor
- Pantai
Pangandaran, Kabupaten
Pangandaran
- Curug Cibeureum, Cipanas, Kabupaten
Cianjur
- Puncak, Kabupaten Bogor - Kabupaten
Cianjur
- Kebun
Raya Cibodas, Kabupaten
Cianjur
- Taman
Bunga Nusantara, Kabupaten
Cianjur
- Taman
Wisata Gunung Gede Pangrango, Cipanas, Cianjur, Kabupaten
Cianjur
- Waduk Cirata, Kabupaten
Cianjur
- Keraton
Kasepuhan, Kota Cirebon
- Keraton Kanoman, Kota Cirebon
- Keraton
Kacirebonan,Kota Cirebon
- Keraton Kaprabonan, Kota Cirebon
- Taman
Air Sunyaragi, Kota Cirebon
- Plangon, Kabupaten
Cirebon
- Belawa, Kabupaten
Cirebon
- Trusmi, Kabupaten
Cirebon
- Wanawisata Ciwaringin, Kabupaten
Cirebon
- Cikalahang, Kabupaten
Cirebon
- Cipanas, Kabupaten Garut
- Bendungan Walahar, Klari, Kabupaten
Karawang
- Curug Bandung, Tegal
Waru, Kabupaten
Karawang
- Curug Cigeuntis, Tegal
Waru, Kabupaten
Karawang
- Curug Cipanundaan, Tegal
Waru, Kabupaten
Karawang
- Pantai Muara Baru, Cilamaya
Wetan, Kabupaten
Karawang
- Pantai Pakis Jaya, Pakis Jaya, Kabupaten
Karawang
- Pantai Samudera Baru, Pedes, Kabupaten
Karawang
- Pantai Tanjung Baru, Tempuran, Kabupaten
Karawang
- Pantai Tirtamaya, Juntinyuat, Kabupaten
Indramayu
- Linggarjati, Kabupaten
Kuningan
- Candi Jiwa, di Percandian
Batujaya, Karawang
- Candi Blandongan di Percandian
Batujaya, Karawang
- Waduk Darma, Kabupaten
Kuningan
- Curug Putri, Kabupaten
Kuningan
- Lembah Cilengkrang, Kabupaten
Kuningan
- Liang Panas, Kabupaten
Kuningan
- Sidomba, Kabupaten
Kuningan
- Curug Landung, Kabupaten
Kuningan
- Situ Cicerem, Kabupaten
Kuningan
- Paseban, Kabupaten
Kuningan
- Cigugur, Kabupaten
Kuningan
- Hutan Kota, Kabupaten
Kuningan
- Kebun Raya Kuningan, Kabupaten
Kuningan
- Paniis, Kabupaten
Kuningan
- Palutungan, Kabupaten
Kuningan
- Curug Muara Jaya, Kabupaten
Majalengka
- Situ Sangiang, Kabupaten
Majalengka
- Taman Buana Marga, Kabupaten
Majalengka
- Tirta Indah, Kabupaten
Majalengka
- Waduk Jatiluhur, Kabupaten
Purwakarta
- Ciater, Kabupaten Subang
- Gunung
Tangkuban Perahu, Kabupaten Subang
- Pantai Blanakan, Blanakan, Kabupaten Subang
- Pantai Pondok Bali, Legon
Kulon, Kabupaten Subang
- Penangkaran Buaya, Blanakan, Kabupaten Subang
- Pantai
Pelabuhan Ratu, Kabupaten
Sukabumi
- Pantai Ujung Genteng, Ciracap, Kabupaten
Sukabumi
- Kampung Toga, Kabupaten
Sumedang
- Museum
Prabu Geusan Ulun, Kabupaten
Sumedang
- Situ Gede, Kota Tasikmalaya
- Gunung
Galunggung, Kabupaten
Tasikmalaya
- Kampung Naga, Kabupaten
Tasikmalaya
- Situ Bagendit, Kabupaten Garut
- Pantai Santolo, Kabupaten Garut
- Pantai
Rancabuaya, Kabupaten Garut
- Curug Cimahi, Kabupaten
Bandung Barat
- Situ Ciburuy, Kabupaten
Bandung Barat
- Masjid
Dian Al-Mahri, Kota Depok
Kesenian
- Pencak silat
- Jaipong
- Gamelan
- Wayang Golek
- Kuda Renggong
- Sisingaan
- Kuda Lumping
- Angklung
- Tari Topeng
- Tarling
- Degung
- Calung
- Tayub
- Cianjuran
- Kiliningan
- Tari Ketuk Tilu
- Rampak Kendang
- Yanuar Wita
- Lagu Manuk Dadali
- Lagu Cing Cang Keling
Makanan
- Batagor
- Cireng
- Comro
- Misro
- Tape singkong (Peuyeum)
- Oncom
- Ubi Cilembu
- Mochi
- Dodol Garut
- Empal Gentong
- Sega Jamblang
- Kecap Majalengka
- Kalua Jeruk
- Opak
- Tahu Sumedang
- Gula Cakar
- Wajit
- Rengginang
- Combro
- Gehu
- Cimol
- Bala-Bala
- Gulali
- Sele Pisang
- Asinan Bogor
- Tutug Oncom atau biasa disingkat T.O.
- Manisan Cianjur
- Cireng
http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Barat






















Tidak ada komentar:
Posting Komentar